Debu Mars Jadi Ancaman bagi Astronaut

Paparan jangka panjang terhadap regolith Planet Merah, yang mengandung karsinogen dan logam beracun, dapat menimbulkan ancaman pernapasan dan meningkatkan risiko penyakit kronis.


Paparan jangka panjang terhadap regolith Planet Merah, yang mengandung karsinogen dan logam beracun, dapat menimbulkan ancaman pernapasan dan meningkatkan risiko penyakit kronis.    Foto Ilustrasi: Juli Kosolapova/UnsplashFoto Ilustrasi: Juli Kosolapova/Unsplash


Ringkasan: 

  • Debu Mars dapat menjadi ancaman kesehatan bagi astronaut yang akan melakukan misi ke planet tersebut.
  • Debu Mars mengandung zat-zat berbahaya seperti perklorat, oksida besi, silika, dan gipsum yang dapat menyebabkan penyakit paru-paru dan kanker.
  • Para peneliti merekomendasikan penggunaan filter udara, pakaian antariksa yang dapat membersihkan diri sendiri, dan perangkat repulsi elektrostatik untuk membatasi paparan debu Mars.


ngarahNyaho - Selama misi Apollo ke Bulan, para astronot menghadapi bahaya yang tak terduga: debu bulan. 


Debu tersebut menempel di pakaian antariksa mereka; merayap ke wahana pendarat bulan; dan menyebabkan tenggorokan teriritasi, batuk-batuk, dan mata berair. 


Penelitian kemudian menetapkan bahwa paparan debu bulan dalam jangka panjang memiliki efek kesehatan kronis. Sekarang, para ilmuwan khawatir tentang bagaimana debu Mars dapat memengaruhi astronaut juga.


Mrngutip Eos.org, Wang dkk. mendokumentasikan bagaimana debu Mars dapat membahayakan kesehatan astronaut yang menghabiskan waktu bertahun-tahun di planet tersebut dan menyarankan strategi untuk mengurangi paparan debu.


Rata-rata, debu Mars hanya berdiameter 3 mikrometer, atau sekitar 4% lebar rambut manusia. 


Debu halus ini dapat mengiritasi paru-paru astronaut, meresap ke aliran darah mereka, dan meningkatkan risiko penyakit seperti penyakit paru-paru dan kanker.


Debu Mars mengandung senyawa seperti perklorat, oksida besi, silika, dan gipsum yang dapat menjadi racun bagi manusia. 


Perklorat, misalnya, dapat memengaruhi regulasi hormonal, dan menghirup beberapa miligram debu Mars saja akan melampaui dosis aman yang direkomendasikan di Bumi. 


Menghirup silika, seperti yang dilakukan penambang batu bara di Bumi, meningkatkan risiko kanker paru-paru.


Debu tersebut juga mengandung logam seperti arsenik, kromium, dan berilium, meskipun konsentrasinya mungkin terlalu kecil untuk memengaruhi kesehatan manusia. 


Oksida besi membantu membuat debu menjadi magnetis dan elektrostatik, yang berarti debu tersebut dapat menempel pada pakaian antariksa dengan cara yang sama seperti debu bulan. 


Selain itu, dosis radiasi tinggi yang diterima astronaut membuat mereka lebih rentan terhadap fibrosis paru, yang dapat diperburuk oleh paparan debu Mars.


Tanpa fasilitas medis di Mars dan dengan perjalanan Bumi yang jauh, penanganan darurat untuk kondisi tersebut akan sulit dilakukan. Jadi, mitigasi paparan debu sejak awal harus diprioritaskan, kata para peneliti. 


Kombinasi filter udara, pakaian antariksa yang dapat membersihkan diri, dan perangkat anti-elektrostatik dapat membantu membatasi paparan pada astronaut. |Sumber: Eos.org


Post a Comment

أحدث أقدم