Kala Robot Jadi Pelayan Restoran dan Perawat Lansia di Jepang

Robot dirancang untuk bekerja bersama manusia, bukan menggantikan mereka.


Robot dirancang untuk bekerja bersama manusia, bukan menggantikan mereka.    Gambar ilustrasi dibuat oleh AI/Pikaso/FreepikGambar ilustrasi dibuat oleh AI/Pikaso/Freepik


Ringkasan: 

  • Jepang menghadapi krisis tenaga kerja akibat populasi yang menua dan jumlah pekerja muda yang menurun.
  • Automasi dianggap sebagai solusi praktis untuk mempertahankan operasi bisnis.
  • Keberhasilan robot bergantung pada penerimaan masyarakat, yang di Jepang sudah terbangun lewat budaya populer.


ngarahNyaho - Di beberapa restoran di jantung kota Tokyo, kucing-kucing robot meluncur dengan mudah di antara meja-meja, menyeimbangkan nampan berisi hidangan yang mengepul. 


Dengan jentikan telinga dan suara "meong" yang riang, robot-robot mengumumkan pengiriman makanan segar seperti parfait dan pizza, yang sering kali disambut tawa gembira oleh para pelanggan. 


Ini bukanlah fiksi ilmiah — ini adalah perubahan wajah industri perhotelan Jepang.


Robot-robot kucing tersebut berasal dari Skylark Holdings Co., jaringan restoran layanan meja terbesar di negara itu.


Perusahaan telah mengerahkan sekitar 3.000 robot semacam itu untuk membantu para pelayan mengelola kecepatan shift yang tak henti-hentinya. Namun, ini bukanlah satu-satunya perusahaan yang mendorong robot di Jepang.


Dihadapkan dengan populasi yang menua dan jumlah tenaga kerja yang menyusut, bisnis-bisnis Jepang beralih ke otomatisasi untuk menjaga kelancaran operasional. Dan perubahan ini paling jelas terlihat di industri jasa.


Krisis tenaga kerja


Jepang telah bergulat dengan masalah demografi selama bertahun-tahun, dan situasinya akan semakin memburuk. 


Menurut Recruit Works Institute, negara tersebut akan menghadapi kekurangan tenaga kerja yang mengejutkan sebanyak 11 juta pekerja pada tahun 2040. 


Sementara itu, proyeksi yang didukung pemerintah memperkirakan bahwa pada tahun 2065, hampir 40 persen penduduk Jepang akan berusia 65 tahun atau lebih. 


Dengan lebih sedikitnya orang muda yang memasuki dunia kerja, dan imigrasi di Jepang yang sangat ketat, bisnis dipaksa untuk memikirkan kembali cara mereka beroperasi.


Robot layanan terbukti menjadi solusi praktis. Awalnya, robot ini dianggap lebih sebagai hal baru daripada solusi nyata, tetapi tampaknya robot ini berhasil. 


Pembantu otomatis ini dirancang untuk bekerja bersama manusia daripada menggantikan mereka.


Dengan demikian, memudahkan perusahaan untuk mempekerjakan pekerja yang lebih tua atau pekerja asing yang mungkin kesulitan dengan tuntutan fisik atau kendala bahasa dalam pekerjaan tersebut.


Pasar robot layanan di Jepang sedang berkembang pesat. Perusahaan riset Fuji Keizai memperkirakan bahwa pada tahun 2030, industri ini akan bernilai lebih dari ¥400 miliar ($2,7 miliar), hampir tiga kali lipat nilainya pada tahun 2024. 


Lonjakan ini didorong tidak hanya oleh kebutuhan tetapi juga oleh kemajuan teknologi yang telah membuat robot lebih efisien dan dapat diakses oleh bisnis dari semua ukuran.


Robot-robot ini sering kali dilengkapi dengan sensor 3D yang memungkinkan navigasi di tempat-tempat ramai sambil membawa nampan makanan yang berat. Kelucuan adalah salah satu bonus; tidak membayar gaji adalah bonus lainnya.


Tetapi robot layanan tidak hanya terbatas pada restoran. Dalam industri yang menghadapi krisis yang lebih besar — ​​perawatan lansia — otomatisasi menjadi suatu keharusan.


Jadi perawat lansia


Di fasilitas perawatan lansia, robot membantu pengasuh mengangkat penghuni, memantau kesehatan mereka, dan memberikan pendampingan. Mereka dapat melacak tanda-tanda vital dan membantu mobilitas, meringankan beban staf manusia.


Seiring bertambahnya usia penduduk negara ini, permintaan untuk perawatan lansia dengan cepat melampaui jumlah pengasuh yang tersedia. 


Sektor keperawatan, yang kesulitan mengisi lowongan, hanya memiliki satu pelamar untuk setiap 4,25 lowongan pekerjaan per Desember 2024. 


Dengan proyeksi yang menunjukkan kekurangan perawat yang semakin parah, otomatisasi semakin dilihat sebagai penyelamat.


Salah satu kemajuan terbaru di bidang ini adalah AIREC, robot humanoid berbasis AI yang dikembangkan di Universitas Waseda. 


AIREC dapat membantu perawat dengan membantu pasien lanjut usia berguling, duduk, dan bahkan mengenakan kaus kaki — tugas yang secara fisik menuntut pekerja manusia.


“Mengingat masyarakat kita yang menua sangat maju dan kelahiran yang menurun, kita akan membutuhkan dukungan robot untuk perawatan medis dan lansia, dan dalam kehidupan kita sehari-hari.”


Demikian kata Shigeki Sugano profesor Universitas Waseda yang memimpin penelitian AIREC dengan pendanaan pemerintah, kepada Reuters.


Di fasilitas seperti Zenkoukai di Tokyo, robot sudah memainkan peran, meskipun dengan cara yang lebih terbatas. 


Beberapa membantu dengan memandu penghuni dalam latihan peregangan, sementara yang lain bertindak sebagai pemantau tidur, melacak tanda-tanda vital, dan memberi tahu staf tentang ketidakteraturan. 


Para pekerja perawatan optimis dengan hati-hati tentang potensi asisten robot yang lebih canggih, terutama yang dilengkapi dengan AI yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan masing-masing pasien.


“Jika kita memiliki robot yang dilengkapi AI yang dapat memahami kondisi kehidupan dan sifat pribadi setiap penerima perawatan, mungkin ada masa depan bagi mereka untuk secara langsung memberikan perawatan keperawatan,” kata Takaki Ito, seorang pekerja perawatan di Zenkoukai. 


Namun, ia memperingatkan, “Saya tidak berpikir robot dapat memahami segala hal tentang perawatan keperawatan. Robot dan manusia yang bekerja sama untuk meningkatkan perawatan keperawatan adalah masa depan yang saya harapkan.”


Penerimaan masyarakat 


Tidak semua tentang pekerjaan dan pertimbangan ekonomi. Tidak peduli seberapa canggih robot, keberhasilan mereka bergantung pada satu faktor penting: penerimaan publik. 


Jika orang tidak menginginkan robot yang menyajikan kopi mereka, mereka tidak akan mendapatkannya, tidak peduli seberapa berkinerja robot tersebut.


Inilah sebabnya Jepang dianggap sebagai tempat uji coba bagi seluruh dunia.

Jepang telah lama menjadi pemimpin global dalam bidang robotika, dan sikap budayanya terhadap otomatisasi adalah alasan utamanya. 


Tidak seperti di beberapa negara Barat, di mana otomatisasi sering kali disambut dengan skeptisisme karena takut kehilangan pekerjaan, Jepang secara historis telah menerima robot sebagai pembantu, bukan ancaman. 


Budaya populer, dari anime hingga robot humanoid di dunia nyata, telah menumbuhkan rasa keakraban dan bahkan kasih sayang terhadap mesin.


Keterbukaan budaya ini memainkan peran utama dalam kelancaran transisi robot ke tempat kerja. Di restoran, robot seharusnya tidak menjadi pesaing bagi staf, tetapi justru rekan satu tim yang meringankan beban kerja mereka. 


Demikian pula, di fasilitas perawatan lansia, asisten robot disambut sebagai kebutuhan untuk melengkapi manusia yang hilang. 


Namun, agar otomatisasi dapat berkembang pesat di luar Jepang, masyarakat lain mungkin perlu mengalami perubahan persepsi — yang melihat robot sebagai pelengkap upaya manusia, bukan menggantikannya.


Pengalaman Jepang dalam mengintegrasikan robot layanan di restoran dapat membantu membentuk masa depan otomatisasi perawatan lansia. 


Tantangan utamanya adalah memastikan bahwa mesin-mesin ini melakukan lebih dari sekadar menjalankan tugas terprogram — bahwa mereka dapat beradaptasi, belajar, dan melengkapi pekerja manusia. |Sumber: ZME Magazine


Post a Comment

أحدث أقدم